HEADLINE

Modus “Uang Keamanan”, Aksi Pemalakan Merajalela Resahkan Pedagang dan Sopir Truk di Pujut

LOMBOK TENGAH — Praktik pungutan liar alias pemalakan yang dilakukan oleh preman kampung kini kembali menjadi momok menakutkan di wilayah Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Modus yang digunakan adalah penarikan “uang keamanan”, yang memaksa para pedagang pasar dan sopir truk angkutan logistik merogoh kocek lebih dalam setiap harinya, atau mereka harus bersiap menghadapi ancaman pengrusakan.

Aksi pemalakan liar ini dilakukan oleh sekelompok pemuda pengangguran yang mengatasnamakan diri sebagai ‘pemuda karang taruna bayangan’. Korban utama mereka adalah para sopir truk pengangkut material bangunan dan sembako yang melintas, serta pedagang sayur dan kelontong di sekitar Pasar Sengkol, Kecamatan Pujut. Keluhan demi keluhan terus bermunculan sepanjang bulan Mei 2026 ini.

Puncak keresahan terjadi pada Senin sore (18/5/2026), di sepanjang Jalan Raya Sengkol, rute utama menuju kawasan ekonomi khusus. Aksi ini terus berulang karena lemahnya tindakan tegas dari otoritas terkait pada masa lalu, sehingga para pelaku merasa kebal hukum. Alasan klise seperti ketiadaan lapangan pekerjaan selalu dijadikan tameng oleh para pelaku untuk membenarkan tindakan pemerasan tersebut demi mendapatkan uang cepat.

Cara kerja para pemalak ini (How) dilakukan secara terang-terangan dan terorganisir. Sekelompok pemuda berjumlah 3 hingga 5 orang membangun portal bambu dadakan di tengah jalan. Mereka mencegat setiap truk yang lewat dan meminta uang bervariasi antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000 per kendaraan. Jika sopir menolak, pelaku tak segan-segan memecahkan kaca spion truk atau melempari bodi truk dengan batu. Hal serupa terjadi di pasar, di mana pedagang yang menolak bayar iuran harian mendapati lapaknya diacak-acak pada malam hari.

Sudarman (42), salah satu sopir truk pengangkut pasir dari luar daerah, menceritakan pengalaman pahitnya. “Saya dihadang di dekat tanjakan. Mereka maksa minta lima puluh ribu. Saya bilang cuma ada sepuluh ribu untuk beli rokok, mereka malah marah, menarik kerah baju saya lewat jendela dan mematahkan spion kanan truk saya. Mau tidak mau saya kasih uangnya daripada saya dikeroyok,” ungkapnya dengan nada kesal.

Polsek Pujut sendiri menyatakan telah menerima banyak laporan terkait keresahan ini. Melalui siaran persnya, aparat berjanji akan segera menggelar operasi pemberantasan premanisme (Ops Bina Kusuma). Pihak berwajib juga meminta masyarakat, terutama para sopir dan pedagang, untuk berani memvideokan aksi pelaku secara sembunyi-sembunyi sebagai alat bukti kuat yang dapat menyeret mereka ke jeruji besi tanpa celah hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *